Tata cara Duduk Tasyahud Akhir dalam Sholat

Tata cara Duduk ketika Tasyahud Akhir

1. Duduk tasyahud akhir termasuk rukun shalat, sehingga tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apapun

2. Cara duduk tasyahud akhir ada dua:

a. Jika shalat yang dikerjakan hanya memiliki satu tasyahud, seperti shalat subuh, shalat witir maka duduk tasyahud akhir dilakukan dengan posisi iftirasy. Tata caranya sama seperti duduk diantara dua sujud. Ini adalah pendapat Imam Ahmad berdasarkan hadis Wail bin Hujr, ketika menceritakan cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فلما قعد للتشهد؛ فرش رجله اليسرى، ثم قعد عليها،… ثم عقد أصابعه، وجعل حلقة بالإبهام والوسطى، ثم جعل يدعو بالأخرى.

“Ketika beliau duduk tasyahud, beliau membentangkan kaki kiri lalu mendudukinya…, dan beliau mengepalkan jari-jarinya, membuat lingkaran antara jempol dengan jari tengah, kemudian beliau berdoa.” (HR. Nasai dan dishahihkan Al-Albani)

Kalimat “kemudian beliau berdoa” menunjukkan bahwa itu dilakukan ketika tasyahud akhir. Dan sebagian ulama menjelaskan bahwa itu terjadi ketika shalat subuh.

b. Jika shalat yang dikerjakan hanya memiliki dua tasyahud, seperti shalat zuhur, atau shalat wajib 4 rakaat lainnya atau shalat maghrib maka duduk tasyahud akhir dilakukan dengan posisi tawaruk (HR. Bukhari).

3. Cara duduk tawaruk:

a. Pantat diletakkan di tanah, telapak kaki kanan ditegakkan dan telapak kaki kiri berada di bawah kaki kanan.

Abu Humaid menceritakan cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ اليُسْرَى، وَنَصَبَ الأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ

“Jika beliau duduk di rakaat akhir, beliau majukan kaki kiri dan beliau tegakkan telapak kaki kanan, dan beliau duduk di tanah.” (HR. Bukhari)

b. Pantat diletakkan di tanah, telapak kaki kanan dibentangkan, dan telapak kaki kiri di atas kaki kanan. Cara kedua ini kadang-kadang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. berdasarkan keterangan dalam hadis dari Zubair bin Awam radhiyallahu ‘anhu,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ فِي الصَّلَاةِ، جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى بَيْنَ فَخِذِهِ وَسَاقِهِ، وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila duduk (tasyahud akhir) dalam shalat, beliau posisikan telapak kaki kiri antara paha dan betis kanan, dan beliau bentangkan telapak kaki kanan.” (HR. Muslim).

4. Kedua tangan berada di atas paha, dan posisi siku tidak melebar melebihi paha. Sebagaiman disebutkan dalam hadis dari Wail bin Hujr yang diriwayatkan Abu Daud dan lainnya.

5. Dianjurkan mengisyaratkan jari telunjuk tangan kanan ke arah kiblat dari awal duduk tasyahud. Karena isyarat jari telunjuk tersebut dilakukan mengiringi doa yang dibaca ketika tasyahud.

6. Dianjurkan mengarahkan pandangan ke arah isyarat telunjuk. Berdasarkan keterangan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika menceritakan cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ فِي الْقِبْلَةِ، وَرَمَى بِبَصَرِهِ إِلَيْهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari telunjuknya ke arah kiblat, dan beliau mengarahkan pandangannya ke arah jarinya.” (HR. Nasai dan dishahihkan Al-Albani)

7. Cara mengacungkan jari telunjuk, sama dengan mengacungkan jari telunjuk ketika tasyahud awal.

8. Catatan: Tidak ada anjuran untuk memiringkan kepala. Karena itu, secara sengaja memiringkan kepala ketika tasyahud akhir, termasuk kekeliruan ketika tasyahud. Berbeda jika kepala miring ini terjadi karena pengaruh posisi tubuh yang tidak simetris seimbang.

,

Comments are closed.