Cara Shalat Tahajud

Tata Cara Shalat Tahajud

Script oleh: Al-Ustadz Ammi Nur Baits

Ibadah di waktu malam adalah ibadah paling tepat untuk membangun kekuatan mental manusia. Allah berfirman,

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلا

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. al-Muammil: 6)

Kerena itulah, sejak masa silam, para orang soleh memiliki kebiasaan bermunajat dengan Allah di malam hari.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ ، فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ

“Lakukanlah qiyamul-lail, karena ini kebiasaan orang-orang soleh sebelum kalian.” (HR. Turmudzi dan dihasankan al-Albani)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan menyebut shalat tahajud sebagai shalat yang paling afdhal, setelah shalat wajib. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاةُ اللَّيْلِ

Shalat yang paling afdhal setelah shalat wajib adalah shalat malam. (HR. Muslim)

Allah juga perintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaksanakan tahajud, sebagai tambahan kewajiban untuk beliau,

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Isra: 79)

Ini semua menunjukkan, shalat tahajud dan shalat malam adalah shalat yang sangat istimewa dalam islam.

Waktu Shalat Malam

Waktu shalat malam adalah antara setelah isya’ sampai subuh. Shalat malam (qiyamul lail) boleh dikerjakan di awal malam, pertengahan malam, atau akhir malam. Ini semua pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sahabat Anas bin Malik – yang pernah menjadi pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam– menceritakan,

مَا كُنَّا نَشَاءُ أَنْ نَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلِ مُصَلِّيًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ

“Setiap kami bangun agar ingin melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam, pasti kami bisa melihat beliau shalat.” (HR. Bukhari 1141 dan an-Nasai 1627).

Artinya, kami bisa menjumpai shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terkadang di awal malam, di pertengahan malam, dan terkadang di akhir malam.

Dan waktu paling utama untuk shalat malam adalah di akhir malam. Karena ini adalah waktu mustajab untuk berdoa. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kami –Tabaroka wa Ta’ala– akan turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Allah berfirman, “Siapa yang memanjatkan do’a pada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Siapa yang meminta ampun pada-Ku, Aku akan mengampuninya.” (HR. Bukhari 1145 dan Muslim 758).

Jika seusai tahajud masih ada waktu sisa, dianjurkan untuk tidur sejenak sebelum subuh, agar tidak mengantuk ketika shalat subuh.

Aisyah pernah ditanya mengenai shalat malam yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata Aisyah,

كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ وَيَقُومُ آخِرَهُ ، فَيُصَلِّى ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى فِرَاشِهِ ، فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَثَبَ ، فَإِنْ كَانَ بِهِ حَاجَةٌ اغْتَسَلَ ، وَإِلاَّ تَوَضَّأَ وَخَرَجَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur di awal malam, lalu beliau bangun di akhir malam. Kemudian beliau melaksanakan shalat, lalu beliau kembali lagi ke tempat tidurnya. Jika terdengar suara muadzin, barulah beliau bangun kembali. Jika beliau sempat melakukan hubungan, beliau mandi. Dan jika tidak, beliau berwudhu lalu segera keluar ke masjid.” (HR. Bukhari 1146).

Apakah shalat tahajud harus tidur dulu?

Ada dua istilah umum untuk menyebut kegiatan ibadah di malam hari,

  1. Qiyam Lail
  2. Tahajud

Dalam ensiklopedi fiqh dinyatakan, qiyam lail lebih umum dari pada tahajud. Karena qiyam lail mencakup semua kegiatan ibadah di malam hari, baik berupa shalat, membaca Al-Quran, belajar mengkaji ilmu agama, atau dzikir.

Sementara tahajud hanya khusus untuk ibadah berupa sholat. Sementara ibadah lainnya, selain shalat, tidak disebut tahajud.

Karena itulah, sebagian ulama berpendapat untuk bisa disebut tahajud, harus tidur dulu. Sebagaimana keterangan ar-Rafi’i – salah satu ulama Syafii – dalam kitab as-Syarhul Kabir. Jika shalat itu dikerjakan sebelum tidur, tidak disebut tahajud, meskipun terhitung sebagai qiyamul-lail.

Meskipun ulama lainnya mengatakan, bahwa ini bukan syarat. Artinya, orang bisa langsung melakukan tahajud, sekalipun dia belum tidur.

Shalat Sunah Iftitah

Bagi yang bangun dari tidur untuk tahajud, disunahkan sebelum shalat malam, agar dibuka dengan 2 raka’at ringan terlebih dahulu. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ لِيُصَلِّىَ افْتَتَحَ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika hendak melaksanakan shalat malam, beliau buka terlebih dahulu dengan melaksanakan shalat dua rak’at yang ringan.” (HR. Muslim 767)

Jumlah Raka’at Shalat Tahajud

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa mengerjakan shalat malam tidak lebih dari 11 atau 13 raka’at.

Aisyah menceritakan,

مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari 3569 dan Muslim 738.)

Kemudian dalam hadis lain dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat malam 13 raka’at.” (HR. Bukhari  1138 dan Muslim 764)

Bolehkah Mengerajakan Shalat Malam Lebih Dari 11 Raka’at?

Jumlah rakaat shalat malam seperti yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah pembatasan. Seseorang boleh melakukan shalat malam kurang dari 11 rakaat, sebagaimana dia juga boleh mengerjakannya lebih dari 11 rakaat.

Al-Qodhi ‘Iyadh mengatakan,

وَلَا خِلَاف أَنَّهُ لَيْسَ فِي ذَلِكَ حَدّ لَا يُزَاد عَلَيْهِ وَلَا يَنْقُص مِنْهُ ، وَأَنَّ صَلَاة اللَّيْل مِنْ الطَّاعَات الَّتِي كُلَّمَا زَادَ فِيهَا زَادَ الْأَجْر ، وَإِنَّمَا الْخِلَاف فِي فِعْل النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا اِخْتَارَهُ لِنَفْسِهِ

“Tidak ada khilaf bahwa tidak ada batasan jumlah raka’at dalam shalat malam, tidak mengapa ditambah atau dikurang. Alasannya, shalat malam adalah bagian dari ketaatan yang apabila seseorang menambah jumlah raka’atnya maka bertambah pula pahalanya. Jika dilakukan seperti ini, maka itu hanya menyelisihi perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyelisihi pilihan yang beliau pilih untuk dirinya sendiri.” (Syarh Shahih Muslim, An Nawawi, 6/19)

Hanya saja ulama berbeda pendapat, mana yang lebih afdhal, mengerjakan shalat malam dengan jumlah rakaat sedikit namun bacaannya panjang, ataukah mengerjakan shalat dengan jumlah rakaat banyak, namun bacaannya pendek.

Kesimpulan yang tepat,

“Barangsiapa yang ingin memperlama berdiri dan membaca surat dalam shalat malam, maka dia bisa  mengerjakannya dengan raka’at yang sedikit. Namun jika ia ingin tidak terlalu berdiri dan membaca surat, hendaklah dia bisa memperbanyak jumlah raka’atnya.” (at-Tarsyid, Musthofa al-‘Adawi, hlm. 146 – 149)

Cara Mengerjakan Shalat Malam

Secara umum shalat dikerjakan 2 rakaat salam, 2 rakaat salam. Kemudian di penghujungnya ditutup dengan witir 1 rakaat.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah menceritakan, ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara shalat malam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu raka’at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.” (HR. Bukkhari 990 & Muslim 1782).

Karena itu, shalat malam sekaligus witirnya dikerjakan dengan jumlah rakaat ganjil. Bisa 3 rakaat, 5 rakaat, 7 rakaat, 9 rakaat atau 11 rakaat. Juga bisa lebih dari itu, dengan bilangan ganjil.

Berikut rincian tata caranya,

[1] Untuk shalat malam 11 rakaat

Dikerjakan 2 rakaat – 2 rakaat kemudian witir 1 rakaat di penghujungnya.

Aisyah menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللهِ – صلّى اللهُ عَليه وَسَلَّم – يُصَلِّي مِنَ اللَّيلِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَينَ كُلِّ رَكْعَتَينِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam 11 rakaat, salam di setiap 2 rakaat dan melakukan witir 1 rakaat. (HR. Muslim 736)

[2] Untuk shalat malam 9 rakaat

Dikerjakan 8 rakaat sekaligus, kemudian duduk tasyahud awal dan langsung berdiri ke rakaat ke-9, da duduk tasyahud akhir lalu salam.

Aisyah menceritakan,

كُناَّ نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَ طَهُوْرَهُ، فَيَـبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ أَنْ يَـبْعَثَهُ مِنَ الَّيْلِ، فَيَتَسَوَّكُ وَ يَتَوَضَأُ وَ يُصَلِى تِسْعَ رَكْعَةٍ لاَ يَـجْلِسُ فِيْهَا إِلاَّ فِي الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ، ثُمَّ يَنْهَضُ وَ لاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ، ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعْناَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِمُ وَ هُوَ قَاعِدٌ

“Kami dahulu biasa menyiapkan siwak dan air wudhu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Allah bangunkan beliau di malam hari. Beliau langsung bersiwak kemudian berwudhu. Lalu beliau mengerjakan shalat malam 9 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan, lalu membaca tasyahud kemudian bangkit dan tidak salam. Beliau berdiri ke rakaat ke-9, kemudian duduk tahiyat akhir, membaca tasyahud lalu salam dengan suara yang didengar oleh kami. Kemudian beliau melakukan shalat lagi 2 rakaat dengan posisi duduk.” (HR. Muslim 737).

[3] Untuk shalat 7 rakaat

Dikerjakan 7 rakaat sekaligus tanpa tasyahud awal, dan hanya duduk tasyahud akhir

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan cara shalat malam yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَلَمَّا أَسَنَّ نَبِيُ اللهِ – صَلّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّم – وَأَخَذَهُ اللَّحْمُ أَوتَرَ بِسَبْعٍ… لَا يَقْعُدُ إِلَّا فِي آخِرِهِنَّ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah berusia lanjut, dan sudah mulai gemuk, beliau melakukan witir 7 rakaat… tidak duduk kecuali di akhir shalat. (HR. Muslim 746)

Bisa juga duduk tasyahud awal di rakaat keenam, kemudian bangkit lagi ke rakaat ketujuh lalu salam. Sebagaimana yang diceritakan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, dalam hadis shahih yang diriwayatkan Ibnu Hibban.

[4] Untuk shalat 5 rakaat

Dikerjakan 5 rakaat sekaligus dan hanya duduk di tasyahud akhir

Dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بـِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ

Siapa yang ingin mengerjakan witir 5 rakaat, silahkan. Siapa yang hendak witir 3 rakaat, silahkan… (HR. Abu Daud 1422)

Dan Aisyah pernah menceritakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan witir 5 rakaat sekaligus, dengan hanya duduk tasyahud akhir. (HR. Muslim 1754)

[5] Untuk shalat 3 rakaat

Dikerjakan dengan cara yang tidak mirip dengan shalat maghrib.

Bisa dengan 3 rakaat sekaligus, atau 2 rakaat salam, kemudian sahalat lagi 1 rakaat.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang 3 rakaat,

كَانَ النَّبِيُّ – صَلّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّم – يَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالوِتْرِ بِتَسْلِيمٍ يُسْمِعُنَاهُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisahkan antara rakaat genap dan rakaat ganjil, dengan salah yang beliau keraskan agar kita dengar. (HR. Ahmad 2/76, Ibnu Hibban 2433 dan dinilai kuat oleh Ibnu Hajar).

Bisa juga dengan dikerjakan 3 rakaat sekaligus. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis dari Abu Ayub radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ

“Siapa yang hendak witir 3 rakaat, silahkan…” (HR. Abu Daud 1422)

Qodho’ Shalat Tahajud karena Udzur

Bagi orang yang tidak melaskanakan shalat tahajud karena udzur seperti ketiduran atau sakit, boleh mengqodho’nya di siang hari sebelum Zhuhur.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا فَاتَتْهُ الصَّلاَةُ مِنَ اللَّيْلِ مِنْ وَجَعٍ أَوْ غَيْرِهِ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sempat shalat malam karena sakit atau udzur lainnya, beliau mengqodho’nya di siang hari dengan mengerjakan 12 raka’at.” (HR. Muslim 746).

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa shalat 11 rakaat, beliau melakukan qadha di waktu dhuha sebanyak 12 rakaat.

Demikian, Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkannya secara istiqamah…

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *