Latest News

Cara I’tidal dalam Sholat – Video Cara Shalat

Gerakaan I’tidal dalam Sholat

1. Bangkit dari i’tidal dengan membaca tasmi’. Tasmi’ adalah bacaan:

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

2. Bacaan tasmi’ dimulai sejak bangkit dari dari rukuk, dan bukan setelah berdiri dari rukuk.

Abu Hurairah menceritakan,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai takbiratul ihram ketika berdiri tegak, kemudian takbir lagi ketika turun rukuk, kemudian membaca ‘sami’allaahu liman hamidah’ ketika bangkit i’tidal” (HR. Bukhari)

3. Pendapat yang kuat, bacaan tasmi’ ini wajib dibaca oleh imam, makmum, maupun orang yang shalat sendirian. (Sifat shalat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hlm. 118)

4. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan ketika berdiri i’tidal, dengan cara yang sama ketika takbiratul ihram. (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Pendapat yang lebih kuat, posisi tangan ketika i’tidal tidak sedekap, tapi irsal (dilepas, tidak sedekap). Hanya saja, kami ingatkan bahwa dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat ulama. karena itu, sikap yang tepat adalah saling menghormati.

6. Wajib tumakninah ketika i’tidal. Tumakninah ketika i’tidal adalah diam sejenak ketika sudah berdiri sempurna, setelah bangkit dari rukuk.

7. Dianjurkan memperlama i’tidal sebagaimana yang dilakukan ketika rukuk. Al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, mengatakan: “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, sujud beliau, rukuk beliau, duduk diantara dua sujud, semuanya hampir sama panjangnya.” (HR. Abu Daud)

Kesalahan Ketika I’tidal

1. Tidak mengangkat tangan ketika i’tidal atau mengangkat tangan namun tidak sempurna.

2. Tidak berdiri sempurna ketika i’tidal. Perbuatan ini bisa membatalkan shalat. Karena seseorang tidak dianggap melakukan i’tidal, sampai dia berdiri sempurna.

3. tidak membaca: sami’allahu liman hamidah. Kesalahan ini banyak dilakukan oleh makmum

4. Membaca doa i’tidal sebelum sempurna berdiri. Membaca bacaan i’tidal sebelum berdiri sempurna, berarti membaca doa yang tidak pada tempatnya, sehingga harus diulangi

5. I’tidal yang terlalu cepat, sehingga berdirinya sangat singkat, belum mencukupi untuk disebut istiqamah.

Bacaan I’tidal dalam Sholat

Bacaan I’tidal dalam Sholat

1. Ada banyak model bacaan i’tidal yang diajarkan dalam islam. Sikap yang tepat dalam hal ini adalah berusaha menghafal semua doa itu dan dibaca secara bergantian. Misalnya ketika i’tidal shalat asar baca lafal A, i’tidal shalat maghrib baca lafal B, dst.

2. Orang yang shalat, hanya boleh membaca doa i’tidal setelah dia berdiri sempurna.

3. Dibolehkan mengulang-ulang bacaan i’tidal, meskipun lebih dari 3 kali, sesuai dengan panjangnya i’tidal.

4. Orang yang shalat harus membaca bacaan i’tidal, meskipun hanya sekali. Karena para ulama menilai bahwa bacaan i’tidal hukumnya wajib.

5. Berikut macam-macam bacaan I’tidal:

Pertama,

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ atau رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

Rabbanaa lakal hamdu atau rabbanaa wa lakal hamdu (ada tambahan huruf “wa”) (HR. Bukhari dan Ahmad)

Kedua,

اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ atau اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

Allahumma rabbanaa lakal hamdu atau Allahumma rabbanaa wa lakal hamdu (yang kedua ada tambahan huruf “wa”). (HR. Ahmad dan Bukhari).

Keterangan:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jika imam mengucapkan, ‘sami’allahu liman hamidah’ maka ucapkanlah: Allahumma rabbana lakal hamdu. Sesungguhnya, siapa yang ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat maka dosa-dosanya yang telah lewat akan diampuni. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga,

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Rabbanaaa lakal hamdu mil-as-samaawaati wa mil-al-ardhi wa mil-a maa syik-ta min syai-im ba’du (HR. Muslim dan Abu Awanah)

Keempat,

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، لا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Rabbanaaa lakal hamdu mil-as-samaawaati wa mil-al-ardhi wa mil-a maa syik-ta min syai-im ba’du, ahlas-tsanaa-i wal majdi, laa maani’a limaa a’thaita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yan-fa’u dzal jaddi min-kal jaddu. (HR. Muslim, Nasai, Ibn Hibban)

Kelima,

لِرَبِّيَ الْحَمْدُ لِرَبِّيَ الْحَمْدُ …

Li rabbiyal hamdu… Li rabbiyal hamdu…

Bacaan ini diulang-ulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau shalat malam. Sehingga panjang i’tidal beliau hampir sama dengan berdiri saat membaca surat Al-Baqarah. (HR. Abu Daud, Nasai, dan dishahihkan Al-Albani).

Keenam,

رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى

Rabbanaa wa lakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu rabbunaa wa yardhaa

Keterangan:
Ada sahabat yang membaca ini ketika i’tidal. Selesai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Siapa yang tadi membaca doa i’tidal tersebut?” Salah seorang sahabat mengaku. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sasya melihat ada 30 lebih malaikat yang berebut mengambil bacaan ini. Siapa diantara mereka yang paling cepat mencatatnya.” (HR. Bukhari, Muslim, dan yang lainnya).