Tata Cara Shalat Gerhana

Tata Cara Shalat Gerhana

Sebelum membahas mengenai tata cara shalat gerhana, ada beberapa cat atan yang perlu kita perhatikan terkait fiqh shalat gerhana, 

Pertama, Shalat gerhana disyariatkan bagi kaum muslimin yang melihat peristiwa gerhana matahari atau bulan. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda terkait peristiwa gerhana, 

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ

“Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat. (HR. Bukhari 1046)

Karena itu, bagi umat islam di daerah lain yang tidak melihat peristiwa gerhana, tidak disyariatkan melaksanakan shalat gerhana.

Kedua, dianjurkan untuk mengundang kaum muslimin dengan panggilan: As-shalaatu jaami’ah

Dari Abdullah bin Amar radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

لَمَّا كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نُودِىَ إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ

“Ketika terjadi gerhana matahari di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, diserukan: As-shalaatu jaami’ah. (HR. Bukhari 1045 & Muslim 2152)

Makna kalimat ini adalah: Hadirilah shalat yang dilaksanakan secara berjamaah ini. (Fathul Bari, 2/533, dinukil dari Mausu’ah Fiqhiyah Muyassarah, Husain Al-Awayisyah, 2/173).

Jika masyarakat tidak memahami panggilan ini, bisa diumumkan dengan redaksi dan bahasa yang bisa dipahami umumnya masyarakat. 

Ketiga, shalat gerhana dikerjakan secara berjamaah di masjid

Imam Bukhari membuat judul bab dalam shahihnya:

بَابٌ صَلَاةُ الكُسُوفِ جَمَاعَةً

“Bab shalat kusuf secara berjamaah”

Al-Hafidz menjelaskan:

وإن لم يحضروا الإِمام الراتب، فيؤمّ لهم بعضهم وبه قال الجمهور

Jika imam tidak datang, maka salah satu diantara masyarakat menjadi imam bagi jamaah yang lain. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. (Fathul Bari, 2/540, dinukil dari Mausu’ah Fiqhiyah Muyassarah, Husain Al-Awayisyah, 2/174)

Keempat, bacaan shalat gerhana matahari dikeraskan, meskipun dilakukan di siang hari

Imam Bukhari membuat judul bab dalam shahihnya:

بَابٌ الجَهْرُ بِالقِرَاءَةِ فِي الكُسُوفِ

“Bab mengeraskan bacaan ketika shalat kusuf (gerhana).”

Kemudian beliau membawakan beberapa dalil yang menunjukkan anjuran itu.

Kelima, Dianjurkan bacaannya panjang demikian pula rukuk dan sujudnya

A’isyah mengatakan:

مَا سَجَدْتُ سُجُودًا قَطُّ كَانَ أَطْوَلَ مِنْهَا

Saya belum pernah melakukan sujud yang lebih panjang dari pada sujud shalat gerhana. (HR. Bukhari 1051)

Dalam riwayat yang lain, beliau mengatakan:

مَا رَكَعْتُ رُكُوعًا قَطُّ وَلاَ سَجَدْتُ سُجُودًا قَطُّ كَانَ أَطْوَلَ مِنْهُ

“Saya belum rukuk maupun sujud sekalipun yang lebih panjang dari pada rukuk dan sujud ketika shalat gerhana.” (HR. Muslim 2152)

Keenam, wanita dianjurkan untuk ikut shalat gerhana di masjid

Diantara dalil yang menunjukkan hal ini adalah testimoni A’isyah tentang shalat gerhana yang beliau lakukan. Hadis tersebut menunjukkan bahwa beliau mengikuti shalat gerhana ini bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Imam Bukhari membuat judul bab:

بَابٌ صَلَاةُ النِّسَاءِ مَعَ الرِّجَالِ فِي الكُسُوفِ

Bab, wanita ikut shalat kusuuf bersama laki-laki ketika gerhana

Ketujuh, Bolehkah shalat gerhana bulan setelah subuh? 

shalat gerhana termasuk shalat sunah muakkad yang memiliki sebab. Sebabnya adalah gerhana matahari atau bulan. Sehingga shalat ini boleh dilakukan, sekalipun di waktu terlarang.

Karena itulah, menurut pendapat baru dari Imam as-Syafii, jika terlihat gerhana bulan setelah  subuh, tetap dianjurkan untuk melaksanakan shalat gerhana tersebut, meskipun di waktu larangan.

An-Nawawi mengatakan,

ولو طلع الفجر وهو خاسف -يعني القمر- أو خسف بعد الفجر قبل طلوع الشمس، فقولان، الصحيح الجديد يصلي، والقديم لا يصلي

Jika fajar telah terbit dan terjadi gerhana bulan atau terlihat gerhana setelah fajar terbit, maka ada 2 pendapat – Imam as-Syafii – dan pendapat yang benar menurut al-Qaul al-Jadid (pendapat baru Imam Syafii), shalat gerhana dianjurkan untuk dilakukan. Sementara menurut al-Qaul al-Qadim (pendapat lama Imam Syafii), tidak boleh mengerjakan shalat gerhana. (al-Majmu’, 5/54).

Tata Cara Shalat Gerhana

Selanjutnya, kita akan mempelajari tata cara shalat gerhana

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan cara shalat gerhana yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Aisyah mengatakan, 

خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ ، فَكَبَّرَ ، فَاقْتَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً ، ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ، ثُمَّ قَالَ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ. فَقَامَ وَلَمْ يَسْجُدْ ، وَقَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً ، هِيَ أَدْنَى مِنْ الْقِرَاءَةِ الْأُولَى . ثُمَّ كَبَّرَ وَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ، وَهُوَ أَدْنَى مِنْ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ . ثُمَّ قَالَ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ. ثُمَّ سَجَدَ ، ثُمَّ قَالَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِثْلَ ذَلِكَ . فَاسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ، فِي أَرْبَعِ سَجَدَاتٍ

Gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami sahabat dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), dan matahari mulai kelihatan kembali. (HR. Bukhari 1046 & Muslim 2129).

Kita urutkan sebagai berikut, 

  1. Takbiratul ihram
  2. Membaca do’a istiftah kemudian berta’awudz, dan membaca surat Al Fatihah dilanjutkan membaca surat yang panjang.
  3. Kemudian ruku’, dengan memanjangkan ruku’nya.
  4. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah, rabbanaa wa lakal hamd’.
  5. Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat al-Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih pendek dibandingkan sebelumnya.
  6. Ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ yang pertama.
  7. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah, rabbanaa wa lakal hamd’. Bacaan ini diulang-ulang selama rukuknya.
  8. Sujud yang panjang dengan mengulang-ulang bacaan sujudnya. 
  9. Duduk antara dua sujud sambil mengulang-ulang bacaannya.
  10. Sujud kedua yang panjang dengan mengulang-ulang bacaan sujudnya
  11. Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama, hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih pendek dibandingkan sebelumnya.
  12. Tasyahud.
  13. Salam dua kali. 

(al-Mughni karya Ibnu Qudamah, 3/313, dan al-Majmu’ karya Imam Nawawi, 5/48)

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.